» » Contoh Makalah Metodologi Penelitian - Desain Komunikasi Visual

Contoh Makalah Metodologi Penelitian - Desain Komunikasi Visual

Written By : on : Wednesday, December 12, 2012 | 5:55 PM

BAB I PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang


Budaya merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga dengan baik oleh para penerus bangsa. Kebudayaan nasional terbentuk dari penyatuan unsur-unsur budaya daerah yang tercermin menjadi satu kesatuan utuh. Budaya lokal Indonesia beraneka ragam sesuai dengan potensi yang dimiliki Indonesia sebagai negara majemuk yang terdiri dari banyak pulau, suku, dan sumber daya lainnya. Keragaman budaya dari Sabang sampai Merauke mulai dari bahasa, pakaian adat, budaya dan tradisi, budaya dan tari-tarian, aneka seni rupa dan lain sebagainya terkombinasi menjadi bagian yng sangat unik dalam kebudayaaan nasional itu sendiri.

Kekayaan kebudayaan nasional merupakan aset kekayaan bangsa dan sekaligus mewarnai kesatuan bangsa yang ditandai dengan mottonya, Bhineka Tunggal Ika. Hal ini menjadi satu kebanggaan sekaligus suatu tantangan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk dapat mempertahankan budaya daerah yang ada di tengah banyaknya pengaruh budaya asing yang dapat merusak budaya daerah.  Oleh karena itu, pengenalan kebudayaan kepada generasi muda menjadi sangat penting untuk mempertahankan aset kekayaan bangsa Indonesia ini.

Mengenalkan kebudayaan Indonesia sejak dini kepada anak-anak bisa
menjadi hal penting karena saat ini banyak generasi muda yang kurang begitu mengenal dan mencintai kebudayaan daerah Indonesia. Di dalam kegiatan belajar mengajar terutama dalam pelajaran pengetahuan sosial kebanyakan anak-anak merasa kesulitan ketika menghafal kebudayaan daerah Indonesia. Sistem pendidikan yang kurang optimal dalam menarik minat pelajar untuk lebih mengenal kebudayaan nasional, kurangnya materi yang mengulas kebudayaan nasional, serta terbatasnya media dalam pengenalan budaya adalah beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak kurang mengenal dan mencintai kebudayaan nasional Indonesia. Hal ini  dikhawatirkan berdampak pada pelestarian kebudayaan nasional dimasa mendatang yang seharusnya merupakan tanggung jawab mereka.

Saat ini sudah sering kita temui gejala-gejala disintegrasi bangsa sebagai dampak dari kurangnya rasa mencintai dan memiliki terhadap kebudayaan nasional Indonesia. Sikap saling memusuhi antar suku, saling mencurigai, dan saling tidak menghargai budaya orang lain, merupakan gejala yang mempertajam disintegrasi bangsa. Tentulah ini suatu sikap yang tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Seiring dengan perkembangan zaman, hal yang berkaitan dengan kebudayaanpun juga mengalami pergeseran, termasuk metode pengenalan kebudayaan nasional dalam dunia pendidikan. Gejala-gejala disintegrasi bangsa yang timbul dianggap sebagai kesalahan masa lalu bangsa kita yang kurang memperhatikan budayanya sendiri. Hal yang menjadi penyebab kurangnya kecintaan bangsa kita terhadap kebudayaannya sendiri diantaranya adalah :
1.    Kurang mengenal dan bangga terhadap budaya daerah.
Banyak dari masyarakat kita terkadang tidak bangga dengan produk dan budaya sendiri. Kita lebih bangga dengan budaya-budaya bangsa lain yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Anak-anak kita bahkan terkadang tidak lagi mengenal aneka ragam budayanya. Budaya daerah banyak yang hilang dikikis zaman oleh sebab kita sendiri yang tidak mau mempelajari dan melestarikannya. Alhasil kita baru bersuara ketika negara lain sukses dan terkenal dengan budaya yang mereka curi secara diam-diam dari kita.
Sebagai contoh; Anak-anak kecil zaman sekarang saat ditanya soal mainan, tentu mereka lebih memilih dunia playstation ketimbang mainan tradisional.
2.    Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kebudayaan nasional.
Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah di tanah air. Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional. Salah satu kebijakan pemerintah yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan daerah di setiap even-even akbar nasional. Misalnya tari-tarian, lagu daerah, dan sebagainya. Semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan dari leluhurnya. Bukan berasal dari negara tetangga. Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan daerah yang kita miliki. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatian pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah.
3.    Kurangnya media untuk mengenalkan sekaligus melestarikan kebudayaan nasional.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sarana untuk pengenalan budaya daerah sangat kurang, termasuk di lingkungan pendidikan yang seharusnya mempunyai orientasi lebih terhadap pengenalan kebudayaan kepada anak didik. Keadaan ini berbanding terbalik dengan perkembangan media yang tidak berorientasikan kebudayaan, yang laju pertumbuhannya sangat signifikan.

Dalam dunia pendidikan, metode yang diterapkan juga mengalami pergeseran, termasuk dalam proses pengenalan kebudayaan nasional Indonesia. Hal ini dilakukan seiring dengan pertumbuhan psikologi anak zaman sekarang yang mempunyai pola berbeda. Anak-anak zaman sekarang cenderung lebih peka dalam menangkap hal-hal yang baru.

Perkembangan dunia teknologi serta digitalisasi merupakan salah satu bagian yang ikut berperan dalam membawa era baru dalam menyikapi segala aspek kehidupan. Namun salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi adalah tersisihkannya kebudayaan kita. Oleh karena itu, ketika pengetahuan budaya semakin memudar, maka bayangan akan kepunahan dan kehancuran budaya Indonesia semakin dekat. Masalah yang dialami adalah kesulitan untuk memindahkan pengetahuan budaya dari generasi ke generasi. Kekayaan budaya bangsa perlu diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia dini.

Pola perkembangan psikologi dan tingkat intelektual anak yang berbeda membentuk individu anak yang kritis terhadap perkembangan teknologi. Namun perkembangan teknologi justru dapat memberikan dampak negatif apabila tidak didayagunakan secara tepat.

Contoh nyata dalam masyarakat berkenaan dengan penggunaan internet. Dimana seharusnya internet dapat dimanfaatkan untuk menggali informasi yang bisa jadi memberikan dampak yang negatif jika digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan hingga merusak moral anak bangsa.


Dalam hal pengenalan kebudayaan nasional untuk anak tingkat Sekolah Dasar, perkembangan teknologi sangatlah diperlukan untuk menunjang dan atau mediasi dalam pengenalan kebudayaan nasional. Hal yang sama juga terdapat pada kebutuhan anak akan hal yang baru termasuk terhadap perkembangan teknologi. Ketiganya sama-sama memerlukan perhatian khusus guna tercapainya keselarasan seperti yang diharapkan, dan juga ketiganya mempunyai keterkaitan satu sama lain.

Dalam hal pengenalan kebudayaan, materi yang diberikan untuk anak tingkat Sekolah Dasar sangatlah kurang, dengan porsi penyampaian materi hanya dua jam pelajaran dalam seminggu. Selain masalah tersebut, metode penyampaian materi juga dengan media yang sangat terbatas yaitu dengan buku, tanpa media lain yang dapat memproyeksikan gambaran kebudayaan yang ada dalam materi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kapasitas materi yang dapat diterima oleh siswa juga tidak maksimal, sebagaimana teori metode pendidikan yang dicetuskan oleh Paulo Freire yaitu Education Of Banking System, yang mana siswa diumpamakan seperti bank yang hanya menerima apa yang diberikan oleh nasabah. Sistem seperti ini memberikan dampak terhadap minimnya peran aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar, yang akhirnya timbul kejenuhan pada diri siswa terhadap materi yang diberikan, dan ujungnya kurangnya minat dan semangat siswa untuk menerima, mengenal dan memahami materi yang diberikan. Berpijak dari hal ini,sistematika dalam kegiatan belajar mengajar perlu adanya pergeseran, yang menuntut minat siswa dan peran aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Untuk menyiasati kebutuhan pengetahuan anak akan kebudayaan nasional sekaligus menyikapi pola intelektual yang semakin kritis selaras dengan pengoptimalan kemajuan teknologi secara terarah dan tepat guna maka dirancang laboratorium keliling berbasis multimedia interaktif.

Multimedia berasal dari kata multi dan media. Multi berarti banyak, dan media berarti tempat, sarana atau alat yang digunakan untuk menyimpan informasi. Jadi berdasarkan kata, multimedia dapat diasumsikan sebagai wadah atau penyatuan beberapa media yang kemudian didefinisikan sebagai elemen-elemen pembentukan multimedia. Elemen-elemen tersebut berupa : teks, gambar, suara, animasi, dan video. Multimedia merupakan suatu konsep dan teknologi baru bidang teknologi informasi, dimana informasi dalam bentuk teks, gambar, suara, animasi, dan video disatukan dalam komputer untuk disimpan, diproses, dan disajikan baik secara linier maupun interaktif.

Penyajian dengan menggabungkan seluruh elemen multimedia tersebut menjadikan informasi dalam bentuk multimedia yang dapat diterima oleh indera penglihatan dan pendengaran, lebih mendekati bentuk aslinya dalam dunia sebenarnya.

Multimedia interaktif adalah bila suatu aplikasi terdapat seluruh elemen multimedia yang ada dan pemakai diberi kebebasan atau kemampuan untuk mengontrol dan menghidupkan elemen-elemen tersebut.
Multimedia dapat juga didefinisikan sebagai berikut, dalam Kamus Informasi dan Teknologi karangan Dudy Misky (2005:180) mendefinisikan multimedia sebagai suatu PC, sistem dokumen, dan lain-lain yang mengkombinasikan teks, grafik, suara, film atau media lain.
Mengutip dari Robin dan Linda, Suyanto (2003:21) mengartikan Multimedia adalah alat yang dapat menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio, dan gambar video.
Definisi lain dari multimedia, yaitu dengan menempatkannya dalam konteks, seperti yang dilakukan Hofstetter (2001), multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi (Suyanto dari Hoffstetter, 2003:21). Kelebihan Inilah yang menyebabkan tampilan multimedia lebih dinamis dan menyenangkan bagi user.
Dalam prakteknya, multimedia lebih maksimal dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, dengan mengesampingkan anggapan negative dari beberapa kalangan bahwa kemajuan teknologi hanya akan membawa pengaruh buruk. Laboratorium keliling berbasis multimedia interaktif merupakan perpaduan antara unsure kebudayaan dan juga kemajuan teknologi yang diharapkan mampu mengatasi kesenjangan-kesenjangan tersebut diatas.


1.2    Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, rumusan masalah perancangan adalah mengenai perancangan laboratorium keliling berbasis multimedia interaktif yang memadukan unsur budaya dan teknologi sehingga bisa menjadi media komunikasi visual yang edukatif dan tepat sasaran.



1.3    Tujuan Perancangan

Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menghasikan produk desain komunikasi visual berupa laboratorium keliling berbasis multimedia interaktif untuk mengenalkan kebudayaan nasional Indonesia kepada siswa Sekolah Dasar dimana belakangan ini kebudayaan nasional Indonesia semakin memudar seiring perkembangan teknologi dan pengaruh budaya asing.

Selain itu, secara keseluruhan media ini dianggap lebih efektif karena media ini mempunyai daya tarik lebih bagi anak-anak dibandingkan media lain seperti buku dan internet. Sehingga daya tarik tersebut dapat menumbuhkan minat anak untuk mengenal dan mencintai kebudayaan Indonesia.

Terbatasnya sumber informasi mengenai kebudayaan nasional Indonesia pada masa sekarang ini menyebabkan semakin banyaknya generasi muda yang kurang mengenal kebudayaan bangsa sendiri. Sumber informasi yang ada seperti buku atau internet tidak dapat dijangkau oleh kalangan tertentu dengan tingkat perekonomian rendah.

Laboratorium keliling berbasis multimedia ini menepis fakta tersebut di atas. Laboratorium ini merupakan laboratorium berjalan yang dirancang sedemikian rupa dengan memodifikasi interior mobil van hingga menyerupai laboratorium mini yang di dalamnya terdapat beberapa computer yang terkoneksi satu sama lain, dan terkonsentrasi pada satu computer server yang menyediakan informasi interaktif tentang kebudayaan dan dapat diakses oleh semua computer yang terkoneksi dengan system intranet. Selain aspek kebudayaan, informasi yang disajikan dirancang sedemikian rupa, seperti pengenalan bahasa asing dengan audio visual yang juga interaktif dan pengarahan secara langsung dari petugas tentang pengoperasian media, hal ini dimaksudkan untuk menyuguhkan metode pendidikan yang berbeda yaitu siswa dituntut lebih proaktif dalam menggali informasi yang dikehendaki, selain itu pengenalan teknologi komputerisasi jaringan yang berbasis multimedia interaktif kepada siswa, dengan harapan siswa lebih maksimal dalam menangkap informasi yang disajikan serta timbulnya minat untuk lebih memahami informasi kebudayaan yang disuguhkan, karena terdorong rasa ingin tahu siswa terhadap hal yang baru dan hal yang menarik bagi mereka.

0 comments:

Post a Comment

Please No Spam and junk, we will remove it !!

 
About Us | Term of Services | Contact
Copyright © 2014. SKUNKS MEDIA - All Rights Reserved